Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan ITTA.. (Ibu Tukang Tambal)..

Akoe dan ITTA.. (Ibu Tukang Tambal)..

Drrrt.. drrt… drrt.. Tiga kali  hape ku bergetar saat malam mulai merangkak menyongsong pergantian hari. Rupanya ada sms dari temanku di tepat HUT Jakarta ke-484 (ah.. ga nyambung..). Berikut petikan smsnya yang kubalas satu persatu.. (S : Sahabat dan A: Aku..)

S:  Malam bro.. dah tidur? Jadi resign kah dirimu?

A: Jadi bro.. kenapa?

S: Ah.. kamu mah enak, pendidikan tinggi, pasti kerja dimana aja bisa, beda banget denganku..

A: Loh.. kenapa? Bukannya kamu dah enak juga kerja.. pasti dah tambah pinter kan?

S: Pinter apaan? Aku kayaknya gak bisa apa-apa bro.. Dah tiga tahun cuma gini-gini mulu.. dan selalu di posisi ini..

A: Kok ngomong gitu? Emang kamu dah coba kerjaan lain?

S: Belum bro.. aku juga ga ada kesempatan untuk rolling ke bagian lain..

Yupz.. segitu aja dah petikan smsnya. Pikirku lantas menerawang dalam beberapa balasan sms kami berikutnya. Aku hanya berpikir kenapa kita harus berkata gak bisa kalau belum mencoba? Bukankah salah kalau menilai sesuatu yang belum pernah dilakukan? Semoga kalian setuju bahwa bisa atau tidak, itu dilihat dari hasil akhirnya bukan? Sahabat yang sms diriku pasti akan bisa lebih obyektif lagi dalam menilai dirinya jika dia pindah bagian atau bahkan pindah kerja. Dengan demikian dia akan tahu kemampuan dirinya dan bisa mengatakan dia bisa apa-apa atau justru memang sebaliknya.

Dalam kerangka waktu yang sempit ini, kucoba yakinkan dirinya bahwa sebenarnya dia bisa. Tapi tak mampu sahabat.. Dia begitu kukuh bertahan bahwa dia gak bisa apa-apa, dan percaya penilaian orang lain. Menurutku di jaman yang lumayan ’edan’ ini, lupakan penilaian orang, karena kita sendirilah yang bisa menilainya. Mau dibilang pinter, ganteng, geblek, mancung, pesek, kaya, dan sebagainya, kalau kita tidak merasakan apa yang ’dilabelkan’ kepada kita, buat apa kita memperdulikannya. Lebih baik mendengarkan suara hati dan lebih arif dalam mendengarkan ’suara di balik punggung’ (baca: penilaian orang terhadap kita) saat menjalani hidup kita ini.

Kepikiran dengan temanku, aku masih berpikir tentang pengalaman hidupku untuk menggambarkan bagaimana dia sebenarnya bisa berarti. Hemh.. aku ingat beberapa hari yang lalu saat bepergian keluar kota dengan keluarga Cileduk. Masih terngiang di telingaku suara berisik di roda depan sebelah kiri mobil Omku. Setelah kucoba turun, ternyata ada beberapa paku yang menancap. Waduuh.. padahal perjalanan kami baru mulai. Tengok kanan kiri, akhirnya Om memilih untuk berhenti di bengkel langganannya.

Alamak.. ternyata cukup rame tuch bengkel, aku bergegas ke ibu-ibu yang sepertinya sedang berkutat dengan rekapan pekerjaan hari itu. Setelah kujelaskan bahwa kami mau check atau tambal ban, Ibu tersebut pun mengangguk tanda setuju. Dan… astaganaga.. karena mekaniknya sedang mengerjakan order yang lain, si Ibu terlihat sangat PEDE menenteng dongkrak dan melangkah ke mobil si Om. Basa basi sejenak menanyakan keluhan, beliau pun fasih meminta Om untuk membelokkan ban yang mau dicheck agar lebih mudah katanya. Melihat kondisi ban, beliau percaya si paku tidak sampai menembus masuk dan menyebabkan bocor. Dengan sigap dia mencari air sabun dan kuas lalu melumuri sekujur ban untuk mengetahui tanda kalau ban bocor. Gak sampai 10 menit, dia pun PEDE mengatakan bahwa ban tidak apa2 cuma perlu ditambah angin saja.. Wuaowww.. keren.. berikut foto si Ibu dan aksinya..

Hegh.. Aku tertohok bukan kepalang. Kukira si Ibu hanya sebagai kasir atau stock keeper di bengkel itu. Tapi ternyata dia mahir juga menangani orderan yang masuk. Hal ini ditambah dengan pengakuan Om yang mengatakan kalau tidak ada suami dan mekanik pun, si Ibu tetap membuka bengkel tersebut, dan melayani orderan demi orderan yang datang. Tak hanya tambal, service aja beliau bisa.. Ah, hebaaaat… Kupanggil beliau ITTA.. Ibu Tukang Tambal..

Plup! Pikirku melayang lagi.. kayaknya cerita ini yang perlu aku share dengan temanku yang barusan sms. Coba bayangkan.. seorang Ibu yang notabene lemah lembut dan biasanya hanya bekerja di dapur, menjelma sebagai seorang yang perkasa di bengkelnya. Beliau yang menurutku tidak bisa mbengkel.. ternyata piawai ’bermain’ dengan dongkrak, kuas, compressor, dan alat-alat mekanik lainnya. Kenapa? Karena pasti di awal beliau telah mencoba mempelajari dan mempraktekkan pekerjaan tersebut. Bandingkan dengan temanku yang belum pernah pindah bagian, tentu saja berbeda. Memang lain soal jika setelah mencoba, ternyata si ITTA tetap berkutat di kasir, itu berarti memang dia tidak bisa. Jadi penilaianku bisa salah kan? Begitu juga opini gak bisa yang diutarakan temanku.. bisa salah juga andai dia sudah melakukan hal-hal lain di luar pekerjaannya yang sekarang. Ingatlah juga selain si ITTA yang kuceritakan, ada Ailan Marshall (wanita Indonesia yang menjadi supir truk di Amerika), Farida Ibrahim (wanita pendiri sekolah-sekolah darurat di Aceh pasca Tsunami), wanita kuli-kuli panggul di Pasar Tanah Abang, dan sebagainya. Mereka yang kita nilai sebagai makhluk lemah tak berdaya dibanding pria, ternyata mampu juga mengerjakan pekerjaan yang biasanya identik dengan lawan jenisnya. Pasti semua diawali dengan mencoba bukan? Walau motifnya karena taraf hidup agar dapur tetap ngebul. Apapun itu.. mereka membuka mataku, bahwa kita akan tahu kita bisa atau tidak.. jika sudah mencoba. Hemh.. tak sabar ingin telpon temanku dan bercerita tentang si ITTA..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: