Beranda > Pelajaran Hidoepku > Belajar Hidup dari Para Pelaut..

Belajar Hidup dari Para Pelaut..

‘So balayar sampai so ka ujung dunia.. “

“Banyak doit.. baroyal abis parcuma..’

Satu bait lagu Balada Palau ala country-nya Tantowi Yahya menemani terjagaku pagi ini. Entah kenapa aku justru lebih suka lagu ini daripada bait lagu ‘nenek moyangku orang pelaut..’ ciptaan Ibu Sud yang lebih melegenda. Mungkin karena lagu anak-anak tak lagi biasa kudengarkan sekarang ini. Tapi memang lagu itu mengingatkanku pada dua sahabat yang juga mengais rejeki di tengah lautan walau berbeda profesi. Yang satu sebagai nelayan (Berno) dan satu lagi sebagai awak kapal mancanegara (Anug alias Kebo papane Al dan Wam).

yang ini mah cuma selat bro.. penghujung Desember 2007

Laut bagiku merupakan sesuatu yang menarik untuk disimak dan ditelusuri walau aku sekarang tinggal di daratan. Menikmati film tentang laut seperti Pirates of The Carribean pun lebih kusuka karena lebih seru dan menegangkan. Yupz.. berjuta misteri (sedikit lebay) bisa kita jumpai dalam maupun  di atas permukaan lautan. Entah apa yang dirasakan dua sahabatku tadi tatkala lebih banyak hari yang dihabiskan di tengah kumpulan air yang begitu banyak dan kadang tak terlihat tepinya, semoga mereka membawa beberapa genggam tanah agar tidak lupa daratan, maksudku dalam arti sebenarnya hehehe.. Namun bagiku, apapun profesi seseorang, tentu ada banyak hikmah yang bisa kita pelajari dari mereka.. Beberapa di antaranya aku coba coretkan dalam beberapa paragraf selanjutnya coretan kali ini.

Jauh dari keluarga..

Hemh.. pastinya, inipun sama dengan aku yang ada di daratan. Tapi di tengah laut? Apalagi bagi mereka yang sudah menikah dan punya buah hati? Waow.. jika kangen berat pasti kelimpungan.. Mau langsung terbang juga mustahil bukan? Kadangkala sistem komunikasi tercanggih pun.. serasa bertekuk lutut jika cuaca di laut sedang kacau. Padahal barangkali anggota keluarga sedang sakit, atau si pelaut sendiri dari yang sedang tidak enak body.. Dari sini aku belajar bahwa butuh tekad yang kuat, kesetiaan yang tulus, dan kesabaran yang tinggi untuk menekuni profesi ini. Tanpa tekad yang kuat, niscaya home-sick akan melanda dan saat sandar pertama bisa lintang pukang kabur pulang. Jika kesetiaan tak terjaga.. ehm, walau gak ada yang tahu, tapi tulusnya cinta bisa ternoda dalam berbagai kesempatan. Aku masih ingat satu cerita bagaimana seorang pelaut yang anak pemuka utama bisa goyah dengan goyangan gadis Meksiko dan tenggelam dalam hangatnya pelukan dara Venezuela. Wah itu sih risiko ditanggung penumpang bro.. Yang penting saling percaya dengan pasangan dan tetap jaga komunikasi. Saat pulang? HABISKAN! Kadar cinta pelaut selalu diukur dari kualitas bukan dari kuantitas. Maklum.. kadang setahun tidak pulang.. Kalu tidak sabar, pelaut juga pasti akan patah di tengah jalan. Sendiri, kadang rekan kerja adalah orang beda budaya, adat, dan negara, pasti menjadi salah satu faktor penguji panjangnya usus atau lebarnya pantat. Katanya orang sabar ususnya panjang dan pantatnya lebar.. Apapun itu, aku belajar untuk selalu bersemangat dalam mengarungi hidup dari mereka sang pelaut..

Cuaca yang datang tidak menentu..

Aku pernah mengalami hujan yang lebat dan angin puyuh yang meronta-ronta di daratan. Saat itu aku segera berlindung di balik selimut atau menepi dan berteduh jika sedang dalam perjalanan. Tapi pelaut? Mau di balik selimut.. pastinya akan jadi gerutuan rekan-rekannya yang berbanjir peluh merentang layar atau menguras air di buritan. Menepi? Menepi dari Hongkong!!??  Mungkin hanya saat darurat saja sauh akan dilempar dan kapal berhenti. Tapi selebihnya, kapal akan melaju walau badai datang melanda. Sungguh sahabat.. aku belajar bagaimana untuk tetap ON walau dalam kondisi sulit dan JALAN TERUS walau ada rintangan dan hambatan yang menghadang. Apalagi aku di darat, yang banyak tempat untuk singgah dan bertanya jika dalam kesusahan, atau tempat meminta dalam kekurangan. Perencanaan matang pelaut dalam memperkirakan dan menyiapkan perbekalan selama masa pelayarannya tentunya jadi acuanku untuk juga bisa melakukan hal yang sama. Hidup tenang yang kita alami bisa berubah menjadi ancaman setiap waktunya dan untuk itulah kita harus bersiap diri secara matang.

Menikmati Sun Rise dan Sun Set di tengah lautan..

Banyak tempat di belahan dunia ini yang dikejar oleh para wisatawan untuk sekedar menyaksikan sunset dan sunrise. Tapi pelaut dengan mudah mendapatinya, apalagi saat kiri kanan, depan belakang tidak ada segaris daratan yang terlihat, dengan teori bumi itu bulat, maka mereka juga dengan mudah mereka akan menikmati dua peristiwa rotasi sang surya di atas dengan mudahnya. Apa yang kupetik dari fenomena ini? Ternyata dengan berpikir jernih, kita dapat menikmati keindahan dalam pekerjaan dan keseharian kita. Bahkan sesuatu yang dikejar oleh orang-orang berduit pun bisa kita nikmati dalam detik-detik kerja kita tanpa harus mengeluarkan biaya.

Mau bukti? Seorang tukang vallet parking dapat merasakan mengendarai mobil-mobil mewah walau hanya sementara. Seorang tukang es goyang bisa menyaksikan fenomena kimia fisika bagaimana garam bisa mempertahankan es tetap beku karena sifat higroskopis garam tersebut. Masih kurang? Seorang kuli bangunan bisa belajar fisika saat memindahkan barang dengan sistem tuas atau memeriksa kerataan permukaan lantai dengan waterpass. Bandingkan dengan aku yang harus belajar hingga puluhan tahun untuk hal-hal di atas dan mengeluarkan biaya lebih, sedangkan mereka? Gratis..tis.. Pendek kata, saat kita bisa menikmati pekerjaan kita, sesuatu yang indah pun bisa tersaji di sana, tanpa menganggapnya sebagai rutinitas atau formalitas belaka.

Hemh.. kala aku berhenti sejenak di akhir coretanku, terasa betapa inginku menjadi pelaut juga. Tapi aku kan tidak bisa berenang, tengsin juga kalau ada apa-apa dan harus nyebur ke air. Yang ada pasti gaya bebas sebebas-bebasnya.. Bebas teriak-teriak, nangis, kelojotan, sampai bebas kecapekan karena panik gak bisa berenang. Namun jika ditawari untuk menjadi pelaut, ada hal ingin kulakukan setelah seharian bekerja di atas geladak kapal. Bukan!! Bukan seperti adegan film Titanic yang berpelukan di ujung kapal.. Melainkan duduk mencakung di dek atas, menikmati malam yang tenang, ditemani secangkir kopi lampung, sebatang rokok ’DP’ atau cerutu sekalian, dan tetap membawa kertas dan ballpoint untuk menambah coretan-coretanku. Menuliskan beberapa kisah bahwa Dia maha adil dengan berbagai profesi kita, tinggal cara kita untuk bersyukur dan menjalaninya dengan sungguh… Ajiiiiiibbbb…

 

Iklan
  1. Juni 28, 2011 pukul 9:42 PM

    mangkanye, belajar renang donk Sob…

    *ngacirr…

  2. bocahrantau
    Juni 30, 2011 pukul 1:06 AM

    eh..tronyok.. mentang2 dah punya pelampung buncit.. hahaha

  3. Januari 15, 2015 pukul 8:09 PM

    Lebih beruntung jadi pelaut sebagai nakhoda kapal bisa melihat pemandangan yang indah…jauh perjalanan luas pemandangan dan pengalaman,ketimbang jadi Pilot resiko tinggi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: