Beranda > Pelajaran Hidoepku > Liburan Rohaniku Episode Kamis Putih…

Liburan Rohaniku Episode Kamis Putih…

21 April 2011, dua hari sebelum coretan ini terbit, saatnya Kamis Putih bagi kami para penganut agama Katolik. Ada beberapa scene yang melintas pada liburan rohaniku kali ini.

Scene 1 :

Walau cuti tapi karena hati sudah terpatri di kerjaan, tetap setia berkutat di depan laptop untuk merancang schedule. Hemh.. ini apa karena perkataan senior yang mengungkapkan bahwa ari-ariku sudah tertanam di pabrikku ini ya??

Scene 2 :

Mulai mengutak atik jadwal misaku, merancang pergi misa dari jam 6 sore sampai akhirnya berangkat jam 9 malam karena permintaan sahabat.

Scene3 :

Teringat beberapa tahun lalu saat secara tak sengaja menjadi salah satu rasul bersama Revo, dan dibasuh kakinya di gereja Kotabaru.

Scene 4 :

Mulai panik karena sampai 20.15 ada sahabat yang belum ready to go, tapi puji Tuhan akhirnya malah ada sahabat yang tergerak untuk ke gereja setelah entah berapa bulan tak ke gereja. Semakin mantab karena dia berjanji untuk rajin ke gereja..

Scene 5 :

Tetap saja si setan ngantuk melingkupi kami, mata merah dan korupsi waktu doa pun terjadi.. Maafkan kami Tuhan.. Saat dalam buaian setan, teringat dulu saat Tri Hari Suci, aku pasti sibuk dengan geng misdinarku, mengelana dari gereja ke gereja.. Phitz, Bambang, Joko, Naning, Paulina, Tuti, Lukas, Yogi, Susi, Lia, Eta, Esti, Eni, Sari, Agus, Wid, Rita, Siska, dan masih banyak yang lainnya.

aku dan om Yogya Wiragi.. sekarang mah gantengan dan tinggian dia hehehe

Yach.. akhirnya aku mengikuti perayaan Kamis Putih yang menjadi awal dari Tri Hari Suci Paskah 2011. Misa kali ini untuk memperingati perjamuan terakhir Yesus bersama para muridnya. Tapi STOP!! Aku tidak akan mengulas sisi agamis dari upacara ini, karena aku tak terlalu bersih untuk hal ini. Aku hanya tergelitik untuk mengungkap satu nilai pelayanan seorang pemimpin dalam hal ini Yesus terhadap muridnya. Begitu tulus, total, dan setia dalam mencurahkan cinta sehabis-habisnya. Begitu tenangnya walau Dia tahu ada pengkhianat  di antara muridnya. Dia begitu bijak, tanpa emosi, dan menanggalkan status pemimpinnya untuk membasuh kaki semua muridnya tanpa terkecuali.

Dalam kehidupan nyata, terkisah secara fenomenal Briptu Norman yang mendadak populer hingga diberi beasiswa, diundang ke berbagai acara TV, dan dipertimbangkan sebagai Duta Kesenian atau Duta Wisata POLRI. Tapi ach.. aku bukan infotaintment yang pintar mengulas dan membungkus si Briptu menjadi komoditi berita. Aku lebih tertarik untuk membahas atasannya Kasat Brimob Gorontalo AKBP Anang Sumpena yang setia mendampinginya kemana-mana sampai menikmati beberapa wahana di salah satu tempat wisata di Jakarta. Bahkan beliau berujar tidak merasa hina tetapi bangga bisa melayani anak buahnya. Selengkapnya bisa dibaca di http://aurapesona.com/berita-terbaru-briptu-norman-kamaru/998/. Amazing!! Menurutku..

Sahabat..

Tengok dirimu sekarang, sebagai apapun dirimu di lingkunganmu, entah di pekerjaan, keluarga, masyarakat, kelompok, atau apapun komunitasmu, suatu saat pasti dirimu akan menjadi seorang pemimpin. Sudahkah kalian total dan tulus melayani?? Atau justru sebaliknya hanya mau dilayani??

Sahabat..

Menjadi pemimpin membutuhkan suatu bekal yang cukup, meski dalam komunitas kecil sekalipun. Jujur, bijak, tenang, tegas, memiliki integritas, memiliki visi, sanggup mendengarkan, adil, semangat melayani, bisa diandalkan, dan sederet syarat lainnya haruslah kita miliki. Bahkan suatu ketika kita harus menanggalkan status pemimpin kita untuk turun membumi seperti dua tokoh di atas guna melayani bawahan atau anggota kita. Diperlukan kerendahan hati luar biasa untuk melakukan itu. Tahukah? Kadang kita lupa bahwa sehebat apapun kita sebagai pemimpin, kita bukanlah apa-apa jika tidak ada mereka yang bersedia dipimpin. Kita sering terbungkus ego bahwa kitalah yang paling penting dan tidak ada yang bisa menentang kekuasaan kita. Menjadi sewenang-wenang, memanfaatkan posisi kita, bahkan tanpa sengaja melukai hati mereka, bawahan dan anggota kita, dengan keputusan-keputusan yang menguntungkan kita sendiri atau tanpa diskusi dengan akar rumput di bawah kita. Lantas harus bagaimana??

Sahabat..

Coba renungkan bagaimana jika suatu saat kita ditinggalkan, di tengah karir yang memuncak, atau saat terpuruk, ketika project belum selesai, atau laporan pertanggungjawaban yang berantakan. Kacau bukan? Ternyata.. bukan hanya kehebatan memimpin kita yang diperlukan tetapi bagaimana kita bisa melayani semua aspirasi mereka di sekeliling kita. Ingat!! Mereka juga perlu didengarkan, diperhatikan, ditegur karena kesalahan, diacungi jempol atau dihadiahi atas usulan dan prestasinya. Mereka butuh dihargai sama halnya seperti kita sendiri dalam menjalani sebuah relasi.

Mulai detik ini, aku mengajakmu untuk meneladan dua sosok di atas, yang dengan sungguh melayani tanpa perhitungan. Bukan cemooh hina yang akan kalian peroleh tetapi suatu kelegaan, kepuasan, penghargaan, dan kelangsungan komunitas yang kalian pimpin. Percayalah sahabat…

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: