Beranda > Akoe dan.... > Aku dan Lorong Rumah Sakit Itu..

Aku dan Lorong Rumah Sakit Itu..

Pagi ini alarm di hape ku berbunyi jam lima pagi, tapi berhubung kantuk masih melanda, kulirik sekilas dan akhirnya kutarik selimutku lagi. Tepat pukul delapan, terbukalah mataku tanpa dikomando dan bergegas kurapikan ranjang yang awut-awutan lalu membasuh muka. Sekilas kulirik secarik kertas memo yang tergeletak dengan santainya di atas si ASPIRE. Ku beringsut mendekat, dan perlahan membaca tulisanku yang kubuat di sore yang lalu.

Training Motivation di Gadjah Mada Plaza

Interview dengan Head Hunter di Cibubur Junction

Jalan-jalan ke Puncak

Donor darah atas undangan sahabat karibku di RS. Mitra Keluarga Depok


Pelan kuraih pena di laci meja dan mulai kugerakkan di atas empat pilihan aktivitasku Sabtu ini. Pena pun mulai bergerak mencoret, menyilang, menulis lagi, seturut pikiranku yang berputar cepat dan acak hingga akhirnya kulingkari pilihan terakhir tanda setuju. Tak perlu tahu alasanku saat itu, kan kuceritakan di akhir coretan ini, hanya memang aku lebih sreg dengan opsi donor darah yang akan menjadi pengalaman ketujuhku sepanjang hidup. Setelah menghubungi head hunter dan kawan-kawan yang mengajak jalan, akhirnya aku mulai bergegas bersiap sambil menikmati sarapan rotiku pagi ini (maaf Rie, aku bohong kalau dah sarapan nasi).

Belum sampai jam 12 siang (batas waktu donor darah), aku sudah eksis di auditorium lantai 4 rumah sakit tempat sahabatku bekerja. Setelah kuhubungi si dia, mulailah proses registrasi, cek tekanan darah dan Hb, semua OK, dan mulailah antri untuk diambil 300 ml darahku. Semua berlangsung lancar dan cepat walau harus berbohong lagi bahwa aku sudah sarapan. Sukses juga akhirnya sekantung darah kusumbangkan di siang ini. Plus… beberapa mililiter yang muncrat sesaat setelah aku mengambil beberapa snack yang disediakan panitia. Huft.. kotor dengan bercak darah dah kaos dan jeans yang dulu kubawa ke Tangkuban Perahu. Well.. it’s no problem, kenang-kenangan dech orang bilang..

Selesai membersihkan tangan yang penuh darah, kulangkahkan kaki keluar ruangan auditorium, lirik kanan dan kiri, yeach.. kutemukan sofa yang walau sudah berisi dua orang, masih muat untukku nyempil di tengahnya. Basa basi permisi, kuletakkan pantatku dengan nyamannya di antara dua mas2 penghuni sofa sebelumku. Waktu terus berjalan.. dua mas2 pergi dan diganti oleh Bapak dan anak lelakinya. Lama juga kami berbincang ngalor ngidul dan akhirnya mereka beranjak jua saat Ibu dari sang anak tiba waktu jam pulang kerja. Akhirnya aku menguasai sofa itu sambil menanti Arie untuk makan siang (plus sarapan benernya..) dan PLUP!! Pikiranku pun melayang..

Aku teringat lagi akan secarik kertas yang kuceritakan di atas, tentang empat pilihan aktivitasku Sabtu ini.. Dan lorong rumah sakit di depan sofa tempatku menunggu memberi jawab atas pilihanku. Sahabat.. lorong itu lurus, bersih, tanpa ornamen lukisan atau pajangan, hanya ada pintu kaca yang terlihat dari tempatku duduk. Tenang, dan hanya beberapa kali pandanganku terganggu akan hilir mudik perawat dan staf rumash sakit yang masuk ruangan tempat sahabatku bekerja. Dan saat sepi, lorong itu kembali mengusik pikiranku..

Hidup hanya sekali.. dan memang seperti roda yang berputar, tergantung bagaimana kita menyikapi setiap tahap hidup ini. Ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah. Namun sanggupkah kita tetap lurus dan bersih seperti lorong rumah sakit ini? Tanpa ornamen, tanpa kotoran, yang hanya membuat pandangan kita berpindah, bergerak, dan melaluinya dengan tersendat.. Hemh, tolong jangan berpikir bahwa karena ini rumah sakit maka lorong itu bersih dan tanpa ornamen.. Bukan itu maksudku…

Bantu aku tuk setuju bahwa tak ada yang salah dari empat pilihanku hari ini, namun ternyata setelah sore ini (saat kutulis coretan ini) pilihan terakhirku adalah yang terbaik. Setelah kulewati puluhan hari terakhir dengan ketidakberuntungan dan kebimbangan.. Hari ini kuberikan sedikit darahku agar dapat membantu mereka yang lebih bimbang, tidak beruntung, dan membutuhkannya. Atas dasar cinta tanpa batas dan balas, kusumbangkan milikku tanpa harap tuk kembali (terang saja, kalau kembali kan namanya tranfusi.. hemh..). Ternyata ku digerakkan olehNya untuk berbuat demi orang lain daripada untuk diriku sendiri. Lihat tiga pilihanku yang lain, bukankah untuk diriku pribadi?

Sahabat..

Aku sadar setiap orang memiliki pikiran yang berbeda dalam memaknai tiap detik hidupnya. Namun kuajak sejenak dirimu berhenti untuk memikirkan diri sendiri, keuntungan pribadi, atau kesenangan tiap hari. Hanya ajakan, jangan dianggap larangan.. dan cuma sejenak bukan selamanya.. sebab bisa kamu lakukan kapan saja dan dalam bentuk apa saja, tidak hanya donor darah sepertiku. Masih banyak bentuk lainnya.. dan tentukanlah sendiri..

Sahabat..

Lorong rumah sakit ini memberiku satu inspirasi.. Bahwa kita masih bisa menjalani hidup dengan  berjalan lurus, tetap bersih, dan menghiasinya dengan ornamen kreasi kita sendiri.. Saat kita berhenti untuk berbagi dengan sesama dan mengasihi yang lain. Percayalah ornamen yang in,i tidak akan membuat jalan kita tersendat sebab kita akan bersemangat untuk melangkah lebih cepat lagi. Selamat menikmati weekend kali ini.. luangkan tuk menciptakan lorong hidupmu sendiri dimana ada saat tuk berbagi.. Tuhan memberkati..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: