Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Bapak TukanG oJeK..

Akoe dan Bapak TukanG oJeK..

Pufft! Peluh membasahi kaosku saat kulangkahkan kaki menuruni bus Agra Mas, yang mengantarku dari Pasar Rebo ke Plaza Serpong.. Saat mau menjenguk pasienku yang sudah dibawa pulang ke rumah. Tengok kanan kiri, dan langsung naek jembatan penyeberangan yang begitu sepi di sore itu, kira-kira pukul lima lebih seperempat. Turun dari jembatan, mataku langsung liar memilih ojek yang akan mengantarku sampai ke rumah si Om. Hap! Dapat, seorang bapak tua dengan helm kuning tak berkaca dan jaket hijau lusuhnya..

“Pakujaya Pak, berapa?” tanyaku membuka transaksi

“Sepuluh ribu dek..” jawabnya pasti.. weitz.. mau meres guwe nich

“Tujuh ribu dech..”

“Tambahin seribu ya..” pintanya..

Berangkaaadddd…” aku mengamininya..


Motor distarter, aku membonceng, dan melajulah kami ke Perum Pakujaya Permai. Cuaca lumayan cerah saat itu, dengan angin yang sepoi menerpa. Maklum, si Bapak juga ga kenceng amat nyetirnya, jadinya assoyyy gebooyyy.. Yeach, sangat kunikmati minggu-minggu KKN-ku (Kemana Kemana Ngangkot). Si TC sedang diperbarui suratnya, jadi ngangkot, ngojek, nebeng, asal tidak ngesot menjadi menuku.

Melewati kompleks Alam Sutera, motor agak melambat, seolah si Bapak mau pamer akan adanya supermarket yang calonnya besaaar dan megaaah di kanan jalan, serta ruko-ruko dan warung-warung makan yang cozy abies.. (tunggu aja kusatronin ntar..). Iseng mengisi sepi di atas ojek akupun bertanya..

“Calonnya gede juga nich Pak” ujarku sambi menunjuk supermarket yang 75% hampir jadi.

“Iya dek, liat aja tuch parkiran penuh hanya untuk pekerjanya”

“Anak kerja di sini gak? Biasanya buka peluang buat warga sini kan Pak?” tanyaku penuh selidik

“Ditawarin sich.. tapi kagak demen tu bocah, kagak mau ribet kali..” jawabnya.

Percakapan tadi rupanya memulai elegi sabtu senja si Bapak Tukang Ojek.. Mulai dari si anak yang kerjanya gak menentu, jarang pulang (sampai kuledek kayak bang Toyib) hingga keluhnya tentang tak ada dana untuk buka kontrakan padahal ada tanahnya nganggur. Semua butuh duit dan mahal, dari bahan bangunan sampai IMB nya. Sampai sampai beliau bingung mau ngawinin anak apa buka kontrakan kalau ada dana terkumpul. Begitu seterusnya sampai tak sadar sudah sampai di depan rumah si Om dan kubayar lebih dari ongkos ojek sebagai penutup transaksi.

“Makasih dek, moga rejekinya tambah banyak ye…” bisiknya pelan..

“Amin Pak… bapak juga ya..” sahutku menguatkan

Sahabat..

Sekali lagi haruslah kita bersyukur, apalagi jika kamu membaca coretan ini, pasti lebih beruntung dari si Bapak bukan? Begitu banyak suara akar rumput yang seolah ingin berteriak, mengaduh, dan mengeluh. Namun lidah mereka pun kelu, dan tak mapu berkata apapun. Kadang niat tulus berorasi demi kesejahteraan hidup pun ditunggangi muatan politis sekelompok oknum, sehingga alunan elegi berupah menjadi cacian dan hujatan murka atas segelintir oknum yang lain. Suara yang begitu jernih disusupi pesan sponsor dengan beberapa lembar ribuan yang memang mereka harapkan. Lantas siapa yang salah? Mereka? Si Oknum penyusup? Atau pemerintah negeri ini?

Sudahlah..

Pusing kalau bicara politik, apalagi aku bukan pakarnya. Aku cenderung tertarik dengan kehidupan si Bapak yang dalam usia senjanya masih menarik ojek untuk makan keluarganya. Biar dapur tetap ngebul.. katanya saat kutanya alasannya menarik ojek. Ach, beraninya aku bertanya waktu itu, tepat setelah batuknya yang kesekian.. begitu kering dan terdengar perih di telingaku. Tapi apalah mampuku? selain berkomat-kamit membaca doa untuk kesehatan si Bapak dan perubahan hidupnya. Aku bukan Tuhan yang merancang hidupnya, hanya pinta yang bisa kuhunjukkan padaNya.

Sahabat..

Usia senja pasti tidak mampu kita hindari, kecuali jika seperti Mas Adjie Massaid yang meninggal dalam usia masih tergolong muda. Masa itu akan menyergap, ketika tenaga dan produktivitas kita menurun seiring umur yang menua. Tapi pernahkah kita berpikir tentang hal itu? Atau terperangkap dengan jargon, muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk sorga. Hati-hati.. karena jika tidak bijak, maka jargon itu akan melekat dengan muda kurang dana, tua terlunta-lunta, dan mati sia-sia.. Selagi masih ada puluhan tahun di depan (tanpa mengesampingkan  garis hidup kita olehNya) baiknya kita siap dari sekarang. Merancang hidup kita sendiri..  berani menuliskannya dalam selembar kertas, untuk selalu kita evaluasi ataupun koreksi. Menyiapkan masa tua tanpa takut untuk sia-sia, apalagi jika kita seorang pegawai yang pasti sampai ke usia pensiun. Jangan sampai di usia senja, hanya elegi yang bisa kita lantunkan, tapi tinggalkanlah sebuah warisan cerita hidup yang jadi suri tauladan anak cucu hingga buyut kita.. tentang sebuah arti kerja cerdas, tak hanya keras, tapi penuh perhitungan dan rasionalitas.

Sahabat..

Siapkah tuk menikmati hidup tua tanpa Elegi Sabtu Senja??

 

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: