Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Nandina (kisah seorang Ayah..)

Akoe dan Nandina (kisah seorang Ayah..)

Sebut saja namanya Nandina (mohon maaf jika ada kesamaan nama)..

Seorang gadis yang tinggal berdua bersama Ibunya.. hanya berdua.. sejak ada di Yogyakarta, setelah meninggalkan tanah kelahirannya di Manado, belasan tahun yang lalu..

Pagi itu, Nandina mematut diri di cermin.. Merapikan sanggulnya, dan menatap toga di depan meja rias kamarnya. Ia akan wisuda kali ini dengan predikat Cum Laude dari Fakultas Ekonomi universitas negeri terkemuka di Kota Gudeg.. Dia tahu Ibunya sudah menunggu di ruang tamu untuk menemaninya wisuda. Walau tidak dia sadari, bahwa di balik pintu kamarnya.. Sang Ibu menitikkan air mata…

Seminggu berikutnya..

Nandina kembali mematut diri di cermin yang sama.. Karena hari ini dia akan mulai bekerja di sebuah bank swasta di Jalan Sudirman. Tanpa tes, tanpa wawancara, dan hanya ditanya berapa IP serta aktivitas ekskul nya.. LUAR BIASA !!

Genangan air mata terlihat di teras rumah, saat Ia melangkahkan kaki menuju tempat kerja.. Genangan air mata itu semakin banyak.. dan lagi-lagi di mata Sang Ibu..

Setahun berlalu..

Nandina mematut diri lagi.. kali ini di depan cermin yang berbeda.. karena meja riasnya tlah diganti dari hasil jerih payahnya.. Meja rias pertamanya yang dulu telah berpindah ke kamar ibunya.. Malam ini kencan pertamanya.. dengan pemuda pujaan yang telah menjadi pelabuhan hatinya, dan mengisi hari-harinya sebelum ajakan menjadi kekasih itu terucap.. di pantai Parangtritis kemarin malam..

Dan kau tahu, Sang Ibu kembali terisak saat melihat anak gadisnya yang cantik, pamit dengan pemudanya..

Dua tahun telah berlalu..

Kini ada yang mematut diri lagi di cermin.. Bukan Nandina.. tetapi Ibunya… Dan gantian di malam minggu yang tenang, Ibunya pamit kepada Nandina untuk keluar sebentar menikmati malam..

‘Kenapa Ibu berdandan ?’ pikir Nandina dalam hati sambil membuatkan cappucino kesukaan pacarnya, yang ‘terpaksa’ harus pacaran indoor… karena rumah tak ada yang jaga..

Sudah 3 malam minggu menjelang hari bahagia perkawinannya, Nandina malah disibukkan dengan polah sang Ibu yang sering keluar sendiri menikmati malam. Dan malam minggu ini, saat sang pacar dinas singkat ke luar negeri, Nandina nekad mengikuti kemana Ibunya pergi..

Degh ! berhenti serasa degup jantung Nandina ketika di sebuah mall di Jalan Raya Solo Yogya, Ia melihat Ibunya di depan pintu masuk studio 2, di bioskop 21 mall tersebut. Ibunya menggelayut mesra di pelukan seorang PRIA !!

Gagah, tampan, dan perlente.. walau sudah setengah baya..

Duar !! dunia serasa berputar bagi Nandina, bayangan mengenai sosok Ayah yang telah lama hilang muncul lagi, ditimpali dengan pikiran buruk tentang polah Ibunya.. Ia jatuh terduduk di persembunyiannya, di samping pintu masuk bioskop. Hanya matanya yang nyalang, membaca judul film di studio 2.. Love, Eat, and Pray… Jiaaaaahhh….

Semenjak malam itu, rumah Nandina sedingin kutub Utara, Ia tak menyapa mesra Ibunya.. hanya sekedarnya saja, sampai pagi ini.. Tatkala sekali lagi Nandina mematut diri di cermin, dan memastikan dirinya siap untuk mengikat janji suci di altar. Dan tahukah kamu, tak ada lagi genangan air mata si Ibu.. justru senyum manis yang mengembang di bibir indahnya.

Upacara sudah dimulai, Nandina masuk ke gereja itu dengan mantab.. Namun di depan altar, saat melirik ke kursi orang tua, dia melihat pemandangan yang mengejutkan.. Ibunya dengan anggun duduk di samping pria yang tak dikenalnya..

Pria itu… pria yang malam itu nonton bareng ibunya..

Pria itu.. pria itu sekarang dalam balutan busana orang tua, begitu gagah tapi memuakkan bagi Nandina..

Pria itu.. tersenyum manis dan berdiri bergandengan dengan Ibunya..

Pria itu.. membuat Nandina tegang.. marah.. kecewa.. dan akhirnya..

TIDAAAAAAKKKKKKK!!!

Teriak Nandina dan berlari sekencang kencangnya meninggalkan altar.. sekencang yang Ia bisa.. seolah mau terbang dari dunia ini.. Tapi di depan gereja.. BUKKKK!!! Tubuh molek Nandina menabrak sesuatu yang keras..

Dan satu tangan kokoh menahannya sebelum jatuh ke pelataran gereja.. Nandina membuka mata, walau tadinya ingin mati seketika.. Wajah yang tampak di depannya ternyata pria yang membuatnya berlari barusan..

Ia ingin berkata, tapi lidah Nandina serasa kelu.. Penuh kasih, si PRIA berkata lembut teratur..

“Nandina.. tentu berat bagimu untuk melewati hidup sampai detik ini..

Tanpa Ayah.. tanpa sosok yang kamu harapkan melindungi dirimu..

Begitu juga denganku.. 22 tahun aku memendam rindu padamu..

Tak bisa menjamahmu karena pekerjaanku..

Hanya melihat perkembanganmu dari foto2 kiriman Ibu..

Hanya mampu menyediakan buku-buku kuliah..

Meja rias pertamamu..

Surat sakti untuk pekerjaanmu..

Dan biaya perkawinanmu..

Tanpa berbincang dan mendekapmu..

Namun kontrakku berakhir di hari ini, saat gadisku akan mengikat janji suci..

Ayah sudah pensiun dari dinas rahasia.. dan siap menimang cucu darimu..

Maafkan Ayah anakku.. banyak waktu untuk jelaskan ini semua..

Bangunlah, dan selesaikan rencana indahmu..”

Nandina membisu.. kelu, dan sebuah kecupan di keningnya membuatnya melihat sekitar.. Dan tepat di sampinngnya.. Ibu dan keluarga besarnya serempak tersenyum dan mengangguk.. Entah apa yang akan terjadi, Nandina mendekap erat pria itu.. seakan tak mau dipisah lagi.. Ada satu janji suci yang harus terucap hari ini, dan setelah itu ada sesi kangen-kangenan setelah puluhan tahun sosok Ayah dia cari…

Nandina berkata lirih.. Tuhan, aku bahagia hari ini…


Iklan
  1. Nandina Rilla Andari
    Februari 10, 2011 pukul 5:00 PM

    ceritanya sama dengan di kehidupanku…..

    • bocahrantau
      Februari 10, 2011 pukul 5:32 PM

      Tak ada maksud untuk menyamai.. itu juga satu cerita di kehidupan cintaku.. GBU Nandina..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: