Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Cerita Perempatan Lampu Merah Cisalak

Akoe dan Cerita Perempatan Lampu Merah Cisalak

Uft.. hujan rintik-rintik kala kulajukan si TC motorku di kawasan pasar Cisalak. Begitu padat sehingga mata nyalangku pun memeberi trigger ke otak bahwa aku akan terhenti di perempatan alias bang-jo Cisalak. Yach benar.. walau sudah kulajukan motorku, tapi tetap saja lampu merah tak mau kompromi, justru semakin cepat menyala sepertinya..

Ah.. aku terjepit di antara dua mobil tepat di ujung perempatan, mau maju tidak ada celah, mau mundur ada Tiger yang mendesak. So.. diam aja dah.. tunggu lampu hijau menyala dan kabooorrr..

Hemh, bau apa nich.. tengok kanan tampak Innova membuka kaca jendelanya, ada keluarga komplit di dalamnya. Nampaknya mau ke Puncak dari gaya penghuni di dalam mobil itu. Tengok ke kiri.. Ha !! ini dia, truk yang memuat ayam potong dan aku tepat di sampingnya.. PantaS !!

Mau tutup helm, bau tambah menjadi, tidak tutup helm eh.. masih terpapar baunya di hidungku. Ya sudahlah (bondan_abies.net) tetap diam dan berharap si hijau menyala cepat cepat..

“Woi Bang ! mobilnya bau banget tau.. mana Papa ga betulin AC yang mati nich !”

Teriakan di samping kananku membuyarkan niat diamku, kulirik sedikit.. Ehm ada anak laki2 umur 10 tahunan  berteriak kepada sopir truk ayam.

Si abang sopir hanya tersenyum manis dan melambaikan tangannya ke si anak. Bahkan gerutuan2 dan umpatan2 selanjutnya pun tak mampu menghilangkan senyum si abang. Namun tiba-tiba..

“Laen kali bawa mobil yang lain aja Bang, jangan yang butut dan bau kayak gitu.. Nambah polusi aja !!”

Ada suara lain di sisi kananku, kali ini keluar dari seorang wanita di kursi depan yang memakai kacamata hitam super duper guedheee..

(Kulirik ke kiri nunggu reaksi si abang)

Tak perlu hitungan menit, beberapa detik kemudian si abang menyahut dengan lantang, lebih keras dari gerutuan dan umpatan yang sebelumnya kudengar (berapa dB ya kira2..?)

“Ibu!!! Hidup itu pilihan.. Kalau boleh milih, tentu saya akan milih di belakang kemudi mobil seperti yang Ibu punya.. Tapi saya miskin, justru dengan ini saya mau nabung dan beli mobil seperti punya Anda.. Mending segera ke bengkel, benerin tuch AC dan tutup jendela rapat-rapat! Jangan sok lah.. Belum punya Ferrarri dah belagu…”

O..O.. Si Abang emosinya menggelegak, sbab barangkali kalau tadi dia anggap sebagai angin lalu karena suara bocah, kali ini suara dewasa yang mencelanya. Bagiku sendiri, bau ayam pun tak masalah karena memang sudah dari sononya. Benar kata si Abang, hidup itu pilihan, kalau mau gak mencium bau yang sama sekali tidak sedap, ya jangan dekat dekat kan..

Plup!! Dunia gelap dan aku melayang di alam pikiranku sendiri..

Sahabat, kadang kita tidak mau mengerti posisi orang lain. Menyalahkan dan menghakimi mereka atas sesuatu yang mereka punya, mereka lakukan, atau mereka akibatkan. Padahal mereka juga tak menginginkan itu terjadi bukan ? Masih banyak contoh konkrit yang ada di sekitar kita dimana begitu angkuhnya kita berdiri di atas nasib yang sedikit lebih baik dan memandang rendah yang di bawah kita.

Sahabat, kita seakan tak pernah sadar bahwa hidup laksana roda yang berputar, kadang di atas kadang di bawah. Coba jika beberapa tahun kemudian di tempat yang sama, si Innova kembali bertemu dengna si Abang yang mengendarai Ferrari.. Apa coba yang akan dipikirkan ?

Sahabat, kita sadar bahwa hidup itu pilihan, namun kadang tidak mau berupaya mengejar pilihan yang kita mau dengan sarana pilihan yang kali ini kita punya atau miliki. Kita bermalas2, berlindung pada kalimat ‘yach sudah nasibku..’, menempuh jalan pintas dengan ke dukun mencari pesugihan, atau mati tergantung karena frustasi. Bukankah lebih baik bekerja keras dan berdoa untuk pilihan yang selalu lebih baik sampai sedikit demi sedikit, dengan meminjam jargon si Tukul, menikmati hasil dari kristalisasi keringat kita ?

Sahabat, Tuhan selalu ada dalam segala yang kita  lakukan. Jahat atau baik, lurus atau berkelok, karena ini semua adalah rancangannya. Begitu detail, sehingga sebenarnya kita tinggal ada di jalur kita dan berpegang dalam namaNya agar tanganNya menuntun kita dan membangkitkan saat kita terjatuh dan terjerembab. Percayalah dan takutlah hanya padaNya..

‘Teeeeetttt…’ bunyi klakson menyadarkanku, dan dua mobil beda pilihan hidup pun tleh hilang dari kiri kananku. Terlalu lama rupanya aku ‘melayang’. Dan ARRRGHH…

Si TC mogok laghe, pelan2 ku dorong menepi diiringi klakson bersahutan dari motor di belakangku.. Ku tatap mereka semua si pemilik motor dan ingin ku berteriak tapi yang keluar senyum manisku saja..

Kira kira begini teriakanku..

“Apa !! mau bilang kenapa motor jelek dibawa bawa ? Macet-macetin jalan aja ? Kalau boleh memilih bla bla bla…”

Tapi si TC tidak jelek, dan tak hanya indah namun tak terganti.. ini pilihanku sekarang untuk mengejar pilihan kendaraan yang lainnya kelak. Selamat hari Sabtu sahabat…

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: