Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Angkringan.. Cafe Tiga Ceret (CTC)

Akoe dan Angkringan.. Cafe Tiga Ceret (CTC)

gambar penampakan angkringan, diambil dari http://ukdw.ac.id/

gambar penampakan angkringan, diambil dari http://ukdw.ac.id/

“Mas susu jahe siji..”

Mas susu jahe satu..

“Deng.. teh anget taware sitok yo..”

Bro.. teh anget tawarnya satu ya..

“Mie goreng yo dhab.. nganggo endoookk..”

Mie goreng ya Mas, pakai teluuurr

“Kang.. aku sego telu.. gorengan papat” (padahal nasinya lima gorengan tujuh)

Mas, aku nasinya tiga, gorengannya empat

“Weh.. sepi to kul.. tutup wae.. mending  samgong po kyu kyu..”

Wah sepi ya Mas, tutup saja, mending judi kartu

“Wah.. bakule bambung iki.. pirang dino ga dodolan..”

Wah penjualnya stres nich.. udah berapa hari tidak jualan

Kalimat-kalimat berbahasa jawa di atas (akhirnya aku translate) sangat akrab sekali di telingaku semasa kuliah di kota Gudeg.. Kalimat khas anak kuliah golongan menengah ke bawah.. Yang malang melintang di angkringan atau sego kucing alias nasi hek atau aku lebih suka menyebutnya sebagai Cafe Tiga Ceret..

Kenapa harus Cafe Tiga Ceret? Karena lazimnya ada tiga ceret (tempat air) yang dengan nyamannya nangkring di atas perapian di sisi kanan gerobak atau rombong angkringan. Ceret-ceret ini dengan setia menemani si penjual atau bakule dalam mencari rupiah demi rupiah. Tentu saja ditemani dengan aneka jajanan dan lauk pauk serta nasi kucing. Nasi kucing adalah nasi putih yang dibungkus daun pisang atau koran ditemani sejumput kering tempe atau secuprit sayur kacang/buncis. Yang lebih elit lagi disertai sambel ikan asin yang rasanya mak nyus..

Cafe Tiga Ceret atau Angkringan.. konon dipelopori oleh Mbah Pairo, pendatang di Jogja asal Cawas yang kemudian diteruskan oleh Lik Man anaknya. Sampai sekarang angkringan Lik Man masih bisa ditemui di Jalan Bumijo, samping stasiun Tugu Jogja dengan suasananya yang khas dan njawani, penuh obrolan ringan dan nyaman aliaz COZY… Dan sekarang hampir di sudut kota Jogja, Solo, dan beberapa kota di pulau Jawa, dapat ditemui angkringan-angkringan lain. Konsepnya selalu sama, gerobak bertenda terpal, ceret yang menghiasi tungku atau perapian, variasi menu yang beragam dan suasana yang nyaman plus murah di samping penjual yang rata2 RAMAAH (Rajin teriMA rupiAH).. hahahaha… Bahkan.. ada angkringan yang dilengkapi dengan fasilitas WiFi loh.. karena terikat MoU dengan warnet di sebelahnya. Wuis.. pokoknya mantabs..

Bagi pelajar dan mahasiswa (ups.. kayak tarif angkot..) ada beberapa manfaat yang dapat ditemui dari angkringan dan komunitasnya misalnya..

  1. Sarana diskusi bahan kuliah..
  2. Ajang cari jodoh.. TePe TePe maksudnya.. karena kaum hawa juga penikmat angkringan, caranya ya tiap hari nongkrong kalau perlu bantuin penjualnya.
  3. Solusi saat tanggal tua atau saat dompet menipis karena bisa berhutang dulu. Beberapa penjual melengkapi dengan buku neraca utang piutang dan yang lebih keren di angkringan Widhi (di seputaran Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman) menggunakan HP untuk mencatat piutang pelanggannya dan dimasukkan di phonebooknya.. Ajjjjiiiibbbbb…
  4. Forum gaul atau situs jejaring sosial, tak jarang gosip cepat beredar dari angkringan.
  5. dan banyak lagi.. isi sendiri aja yach..

Sahabat.. bukan kangen-kangenan suasana Jogja  atau deskripsi nyata angkringan yang akan aku ungkapkan.. Tapi nilai penting dari semangat angkringan dan komunitasnya. Jika dirimu penikmat angkringan juga, mohon maaf jika ada yang tak sama (beda boleh bukan). Semangat Angkringan terdiri dari tiga suku kata.. ANG-KRI-NGAN…

ANG..garan..

Dalam angkringan secara implisit sebenarnya terkandung pelajaran hidup bagaimana kita mengatur anggaran hidup kita. Sekali kita meleset, besar pasak dari pada  tiang, maka bersiaplah untuk makan di angkringan. Artinya dalam hidup, prioritas tetap diperlukan agar kita dapat menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jika tidak, maka keadaan di luar normal yang kita dapat.

KRI..da

Krida atau karya alias bekerja. Pernahkah mengikuti sepak terjang penjual angkringan? Sore buka lapak, sampai malam atau subuh (mungkin juga 24 jam dan ada shiftnya), diterpa hujan atau dingin malam, sepi tatkala pelanggan mudik, lalu siang istirahat dan sore buka lagi. Bagi yang lajang kapan pacarannya coba? Aku memaknainya sebagai semangat krida yang luar biasa dengan untuk yang tak seberapa tetapi halal. Semangat yang didorong untuk bertahan hidup bahkan mencapai sukses karena sekarang ini Angkringan mulai diversifikasi ke makelar laundry, isi ulang pulsa, agen tanah, dan jual togel (ups.. yang terakhir sepertinya sudah tak berlaku).

NGAN..ti teklak tekluk (baca: hingga terkantuk-kantuk)

Ada pelajaran kesabaran di sini, dimana penjual hingga terkantuk pun tetap menanti dan melayani pembeli yang datang hingga larut malam. Dalam hidup, kita perlu sabar dalam meraih sesuatu, apalagi jia mustahil tercapai. Percayalah, keberhasilan akan kita raih jika tekun dan sabar tentunya dengan perjuangan/krida, bukan buru-buru dan serba instant. Ingat.. easy come easy go.. semakin cepat kita peroleh akan semakin cepat pergi kesan/kepuasan yang kita dapat.

Nah sahabat.. sudahkah engkau memiliki semangat Angkringan?

Iklan
Kategori:Akoe dan.... Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: