Beranda > Pelajaran Hidoepku > Menjadi Kaya di Negara Yang Miskin

Menjadi Kaya di Negara Yang Miskin

Beberapa minggu yang lalu aku tertarik pada notes beberapa sahabat yang menyatakan bahwa Indonesia sebenarnya negara yang kaya (diunggah ke sebuah situs jejaring sosial). Yach.. dijabarkan dengan data fakta mengenai kekayaan alam Indonesia. Ach.. aku sangat menyukainya dan terlampau menyenangi artikel/notes itu..

Hingga sore hari ini, di tengah kunyahanku atas ubi goreng terakhir yang kubeli saat pulang kerja.. Terlintas pikiran untuk menulis dengan aspek berlawanan.. bahwa negara kita MISKIN!!!

Cepat kuraih Aspireku.. kuselesaikan kunyahanku dan mulailah jemariku menari..

Teringat akan percakapanku dengan Ibu saat meminta uang untuk beli kado pacarku…

’Bu.. minta uang buat beli kado dong..’ pintaku

‘Uang.. uang.. uang dari Hongkong ?’ tukas Ibu sambil beraut masam.

Hemh.. faktanya memang Hongkong termasuk negara terkaya di dunia berdasarkan pendapatan perkapita penduduknya.. Lantas, pantaskah negara ini disebut negara yang kaya jika hanya data dan faktanya saja? Tanpa pengolahan dan eksplorasi yang tepat guna?

Tampaknya tidak bukan? Bagaimana jika kita disebut negara MISKIN? Upz.. PERIH nian… Tapi menurutku kita memang MISKIN PERIH sahabat.. Prestasi, Edukasi, Rasionalitas, Iman, dan Harga Diri..

Miskin Prestasi

Memang masih ada beberapa di antara anak bangsa yang mengharumkan negeri ini dengan prestasi di beberapa ajang lomba internasional. Tapi secara keseluruhan, apakah kita berprestasi? Prestasi korupsi iya.. tapi yang lain? Ah.. semoga aku keliru tentang hal ini. Namun bidang2 lain sangat terasa ketertinggalan kita dari negara lain.. Olahraga, Otomotif, Ekonomi, dan banyak lagi sahabat..

Miskin Edukasi

Pernahkah kita berpikir mengenai dunia pendidikan di Indonesia ? Bukan untuk sesaat tetapi untuk berkelanjutan.. Bayangkan banyaknya dosen dari negara-negara yang dulu mengirimkan muridnya ke negeri kita  untuk belajar. Tidak usah diurai satu persatu tapi faktanya kita kalah bahkan dengan negara-negara serumpun dan tetangga.

Miskin Rasionalitas

Peristiwa tawuran di Tarakan, Jalan Ampera, kawasan Menteng, kasus bunuh diri, fenomena Ponari, kepastian hukum yang tak jelas.. Semuanya menunjukkan kekurangan kita pada rasionalitas yang matang. Yach.. rasionalitas atau pemikiran mendalam dalam menyikapi sesuatu.. Semuanya ingin serba instan dan celakanya serba egois.. Keakuan kita tonjolkan dan tepa selira kita kesampingkan.. Kepentingan khalayak kita abaikan, kepentingan pribadi kita tonjolkan.. Yang masuk akal kita kubur, yang sedikit ngawur dan mustahil kita tumbuh kembangkan. Bukankah kita miskin dalam hal ini ?

Miskin Iman

Peristiwa antar umat satu agama, konflik antar umat beragama, dan pengharapan yang tipis.. benar benar makin menjabarkan krisis iman di negeri ini. Orang tidak lagi berpegang pada inti dari setiap ajaran kepercayaan yang dianutnya.. Namun menerapkan fanatisme keluar dibanding fanatisme ke dalam.. ke diri kita masing-masing.

Miskin Harga Diri

Pernahkah kita merasa terinjak-injak harga diri sebagai pribadi dan bangsa? Kasus batas wilayah dengan negara tetangga, penganiayaan tenaga kerja kita, pencatutan budaya kita.. Pernah kita terusik? Sekejap saja bukan? Wow.. budaya pembiaran yang akhir2 ini marak dibahas di media, ternyata sudah merasuki kita sehingga kesan cuek dan acuhlah yang terlukis di pribadi kita..

Sahabat? Salah siapa ini semua? Kemana tulisan2 di kitab kuno mengenai kejayaan negeri ini.. Gemah Ripah Loh Jinawi dan bla..bla.. bla.. seterusnya? Mungkin aku salah dengan tulisan ini.. tapi percayalah, terkadang pemikiran terbalik akan membantu kita untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya..


Maka.. jadilah KAYA di tengah negara kita yang MISKIN ini sahabat….

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: