Beranda > Pelajaran Hidoepku > Syukuri.. Apa yang Tuhan anugerahkan padamu..

Syukuri.. Apa yang Tuhan anugerahkan padamu..

Senja, 29 Agustus 2010, di sebuah rumah sakit swasta di daerah Depok, seorang dokter wanita muda nan elok menghadapi pasiennya, seorang pekerja pabrik yang mengeluhkan panas tubuhnya yang tinggi selama dua hari belakangan..

“Dok, diagnosanya apa?” tanya pasien setelah pemeriksaan berakhir.

“Ehm..” gumam si dokter sambil menatap wajah sang pasien tanpa berkedip.

Pasien menunduk, tapi mata sang dokter tetap tak lepas menatapnya.

“Maaf Dok, diagnosa saya apa, atau ada yang gawat sampai Anda tidak mau menjawabnya?“ kejar pasien penuh harap.

“Bulu mata Anda bagus sekali Pak, boleh tukeran??“ sahut sang dokter.

“Whaaaaaaattt….“ pasien pun merah padam, kikuk dibuatnya.

Pasien itu kebetulan adalah aku, seorang pekerja pabrik yang sebetulnya selalu tidak percaya diri dengan fisikku. Menurutku tidak sesempurna pria-pria lain yang berada di sekitarku. Namun ucapan si dokter, seperti beberapa ucapan beberapa wanita lainnya, seolah menyadarkanku dari kurangnya aku bersyukur atas diriku.

Yach.. bersyukur atas apa yang aku miliki..  Bersyukur atas anugerah Tuhan berupa sebentuk ragaku selama ini. Sejenak sebelum menulis coretan ini aku merenung, mencoba mencitrakan penciptaanku, tentunya dalam versiku sendiri.

Dan ternyata.. aku memang unik, dan sempurna. Yach.. aku sempurna.. ketika sampai di suatu titik dimana ku bisa bersimpuh.. untuk memohon ampun kepada-Nya atas kebutaanku selama ini.

Aku sungguh sempurna saat bisa bersyukur dan menerima semua rupa diriku. Bulu mata yang lentik dan indah hanya secuil kecil saja dari anugerah indah yang Tuhan karuniakan padaku. Lebih banyak lagi ternyata.. saat keirian, kecemburuan, keinginan untuk selalu lebih, dan ketidakpedulian bisa kutanggalkan dari benakku.

Tuhan menciptakan kita selalu sempurna..

Lengkap, utuh, dan tak bercela… Jika saat lahir biasanya kita diumpamakan sebagai kertas putih, namun aku lebih suka untuk mengumpamakannya sebagai manekin polos. Bagaimana manekin itu terlihat indah, tentu tergantung dengan busana yang akan dipasangkan padanya. Busana yang indah, serasi, rapi, dan menarik untuk dipandang.

Kita sendiri yang harus menentukan busana tersebut atas diri kita.. Wujudnya berupa tutur kata, tidak tanduk, dan sifat pribadi kita. Semakin baik dan sempurna ketiga unsur di atas.. makin indah pula akhirnya kita. Tak hanya indah dipandang namun selalu diterima oleh semua panca indra orang lain.

Siapa yang memasangkan? Orang-orang di sekitar kita sendiri.. Semakin kita sering berbohong dan ingkar janji, busana compang camping lah yang akan terpasang.. Semakin kita bisa melayani dan menghargai, busana bersih dan rapi lah yang akan melekat di tubuh kita.. Ingat.. kita mulanya adalah manekin polos..

Jadi.. sudahkah kita bersyukur atas apa yang dianugerahkan Tuhan pada kita?

NB: mohon jangan tanyakan dialog selanjutnya antara si dokter dan pasiennya (itu rahasia)

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: